Minggu, 12 Desember 2010

Membaca & Menulis Cerpen

. Sabtu, April 03, 2010


Membaca & Menulis Cerpen - Apa itu cerpen ( Cerita pendek )? Bagaimana cara menulis cerpen? dan seperti apa contoh dari cerpen itu? semua terangkum dalam uraian dibawah ini.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, cerpen adalah akronim dari cerita pendek, yaitu kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi. 

Anda tentu sudah sangat sering membaca cerpen? Atau Anda pernah menulis cerpen? Kali ini Anda akan berlatih kembali membuat cerpen. Ide cerpen dapat ditulis berdasarkan ide apa saja, baik pribadi maupun orang lain, Cerpen tersebut merupakan fiktif naratif, dengan kata lain cerpen tersebut termasuk ragam cerita imajinatif.


Biasanya, cerpen itu jumlah halamannya berkisar 2-20 halaman yang memiliki beberapa kategori, di antaranya:

- Kisahan memberi kesan tunggal dan dominan satu tokoh, latar dan situasi dramatik, bentuknya sangat sederhana. Semuanya bersifat imajinatif;
Mengungkapkan satu ide sentral dan tidak membias pada ide sampingan. Biasanya berisi hal-hal yang tidak rutin terjadi setiap hari, misalnya tentang suatu perkenalan, jatuh cinta, atau suatu hal yang sulit dilupakan;
- Dimensi ruang waktu lebih sempit dibandingkan novel. Akan tetapi, walaupun singkat, cerpen selalu sampai dalam keadaan selesai;
- Mengungkapkan suatu kejadian yang mampu menghadirkan impresi tunggal

Seperti prosa, cerpen juga terdiri atas unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra.

Unsur intrinsik Cerpen ( Cerita Pendek ) meliputi: 
Tema
Plot/alur
Tokoh dan Penokohan
Latar
Sudut pandang
Pesan, dan Gaya.

Unsur ekstrinsik Cerpen ( Cerita Pendek )  meliputi: 
Biografi pengarang
Kondisi sosial
Politik
Agama,atau filsafat.


"Yakinkan diri Anda bahwa menulis itu mudah dan mengasyikkan!"


Demikian artikel ini saya susun, semoga artikel "Membaca & Menulis Cerpen" ini dapat berguna bagi saudara saudara semua ^_^

Kalimat Inti dan Kalimat Transformasional

. Selasa, April 06, 2010


Kalimat Inti dan Kalimat Transformasional - Apa definisi kalimat inti ? Apa definisi kalimat transformasional ? dan apa perbedaan diantara keduanya? dalam artikel kita kali ini kita akan membahas tentang kalimat inti dan kalimat transformasional, disertai dengan contoh contohnya.

Definisi Kalimat Inti dan Kalimat Transformasi

Kalimat inti adalah kalimat yang hanya terdiri atas dua unsur pusat, yaitu unsur subjek dan predikat, tanpa mengalami perluasan pada salah satu unsurnya.

Jika kalimat inti telah mengalami perubahan berupa susunan katanya atau intonasinya, kalimat tersebut tidak menjadi kalimat inti lagi, walaupun masih merupakan kalimat mayor. Kalimat tersebut menjadi kalimat transformasional. Perubahan dari kalimat inti menjadi kalimat transformasional dapat dilakukan dengan cara mengubah tata urut unsur unsur intinya, mengubah intonasi netralnya, atau memperluas kalimat inti tersebut. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh kalimat di bawah ini!


Contoh Kalimat inti: 

Adik menangis.

Contoh Kalimat transformasional:

a. Dengan perubahan intonasi: 



b. Dengan perubahan urutan kata: 

.

Demikian artikel "Kalimat Inti dan Kalimat Transformasional" ini saya susun teman teman. semoga apa yang telah kita pelajari beberapa saat yang lalu dapat bermanfaat untuk kita semua.

Artikel ini saya ambil dari Buku Bahasa Indonesia ( BSE ) " Terampil Berbahasa Indonesia 2 " karangan Gunawan Budi Santoso, Wendi Widya R.D, Uti Darmawati. Semoga Apa yang mereka tulis dapat dicerna oleh teman teman semua ^_^

Pesan yang hendak disampaikan sentra-edukasi.com adalah "Mari kita gunakan BSE!, Siapa bilang BSE tidak bermutu ^_^, MAri kita mudahkan pencarian informasi untuk pendidikan!!!"

-------------------------------

Materi Pembelajaran


Kalimat (1) tidak memiliki kesatuan gagasan karena kalimat tersebut tidak memiliki subjek. Unsur di dalam keputusan itu bukanlah subjek, melainkan keterangan. Oleh sebab itu, agar kalimat tersebut efektif frasa di dalam harus dihilangkan. Dengan demikian, kalimat tersebut berubah menjadi kalimat (2).
Kalimat (3) tidak efektif karena tidak memiliki kesejajaran antara predikat-predikatnya. Predikat menolong merupakan predikat aktif, yakni menggunakan imbuhan meng-, sedangkan dipapahnya merupakan predikat pasif, yakni menggunakan imbuhan di-. Karena itu, kalimat tersebut harus diubah sehingga akan menjadi kalimat yang memiliki kesejajaran (paralel) seperti kalimat (4) atau (5).
Ketidaklogisan kalimat (6) disebabkan oleh pemakaian kata mengajar. Bahasa Indonesia bukanlah benda hidup yang bisa diajar. Agar kalimat itu logis, predikat tersebut harus diubah menjadi mengajarkan seperti contoh (4) atau (5)
Contoh:
(1) Sebelum hujan turun dengan derasnya, aku sudah sampai ke rumahnya.
(2) Gadis yang bernama Anti itu sedang belajar menari.
(3) Petani yang rajin bekerja itu sedang bertanam jagung kualitas unggul di pekarangan rumahnya yang luas itu.
(4) Ayahnya adalah seorang guru SD yang sangat jujur dan sederhana.
(5) Meskipun hidupnya menderita, ia tetap tersenyum kepada setiap orang.
(6) Sikap Negara-negara Barat yang melarang warganya bepergian ke ASEAN, terutama ke Indonesia, dikritik oleh para pemimpin ASEAN dengan meyebutkan bahwa itu sebagai hal yang tidak perlu.
(7) Sejak lahirnya konsep pemikiran baru dalam ilmu kedokteran, yang dicetuskan oleh professor Linus Pauling, yakni tentang orthomolecular medicine yang dasarnya adalah studi biologi molekulernya sebagai sains dasar, penelitian-penelitian medis diarahkan pada molekul-molekul yang secara normal biologis-fisiologis ada dalam tubuh mereka.
(8) Penelitian-penelitian mutakhir memusatkan perhatian pada makanan dari soya, yang ternyata dapat mencegah kanker payudara.
(9) Sekalipun udara dingin berhembus, orang tetap berduyun-duyun membeli karcis pertunjukan drama “Surapati”.
Kesinambungan pembangunan hanya mungkin dilaksanakan jika ketahanan nasional dan kualitas trilogi pembangunan meningkat.
(2) Ririn sedang makan roti.
(3) Kemarin Ririn makan.

Syarat-syarat dalam membuat Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali
gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran
pembicara atau penulis. Kalimat sangat mengutamakan keefektifan informasi itu sehingga kejelasan kalimat itu dapat terjamin.
Kriteria kalimat efektif :
1. Menggunakan kesepadanan antara struktur bahasa dan jalan pikiran yang logis dan sistematis.
2. Menggunakan kesejajaran bentuk bahasa yang dipakai.
Syarat pertama bagi kalimat efektif mempunyai struktur yang baik. Artinya kalimat itu harus memiliki unsur-unsur subjek dan predikat, atau bisa di tambahkan dengan objek, keterangan dan unsur-unsur subjek, predikat,objek, keterangan, dan pelengkap melahirkan keterpaduan arti yang merupakan ciri keutuhan kalimat.
-       Subjek adalah unsur yang melakukan suatu tindakan atau kerja dalam suatu kalimat.
-       Predikat adalah sebagai unsur kata kerja.
-       Objek adalah Unsur yang dikenai kerja oleh subyek.
-       Keterangan dapat berupa keterangan waktu ataupun tempat selama kejadian.
-       Pelengkap adalah unsur yang melengkapi kalimat yang tak berobyek.
-Syarat-syarat kalimat efektif: (memiliki)
1. Kesepadanan dan Kesatuan,
Untuk dapat mencapai kesepadanan dan kesatuan dalam kalimat efektif, perlu di perhatikan beberapa hal karena kesepadanan ini memiliki ciri.
- Memiliki fungsi Subjek dan predikat
- Kata penghubung intrakalimat dan antarkalimat
- Gagasan pokok
- Penggabungan dengan menggunakan “yang”, “dan”
- Penggabungan Menyatakan “sebab”, “waktu”
- Penggabungan kalimat yang menyatakan hubungan akibat dan tujuan

2. Kesejajaran : penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sama atau konstruksi bahasa yang sama yang dipakai dalam susunan serial.
3. Penekanan dalam kalimat
Seorang pembicara biasanya akan memberikan penekanan pada bagian kalimat dengan memperlambat ucapan, meninggikan suara dan sebagainya pada bagian kalimat tadi.
4. Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif merupakan kehematan dalam pemakaian kata, frase atau bentuk lainnya yang di anggap tidak diperlukan. Kehematan itu menyangkup gramatikal dan makna kata.
5. Kevariasian
Dalam menulis sebuah tulisan, kevariasian sangatlah penting. Hal tersebut di karenakan, apa ila tulisannya panjang, pembacanya akan merasa bosan. Oleh karena itu kevariasian sangatlah penting, agar sang pembaca tidak merasa jenuh saat membaca tulisan sang penulis.

Jumat, 03 Desember 2010




Pengamat Pendidikan. Mahasiswa Program Magister Universitas Negeri Malang
(Seandainya) Masuk PTN Tanpa Seleksi
Abdul Halim Fathani
| 03 December 2010 | 18:56
Total Read

Belum ada chart.
Oleh Abdul Halim Fathani
Pemerintah menetapkan, dalam penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri, sebanyak 60 persen dari kapasitas yang tersedia harus melalui seleksi nasional. Merespons keputusan ini, sejumlah perguruan tinggi negeri akan melakukannya melalui dua jalur penerimaan. Jalur pertama melalui ujian tertulis seperti seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) dan jalur nontertulis lewat penelusuran minat dan kemampuan. Jalur ini tidak berbeda jauh dengan tahun-tahun sebelumnya, tetapi kuotanya tahun sekarang sudah ditentukan. (Kompas, 15/11/10). Sedangkan, sisanya (40 persen) ditentukan dari seleksi mandiri yang model penyelenggaraannya diserahkan ke masing-masing PTN.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 itu, secara tersirat ditetapkan bahwa prinsip penerimaan mahasiswa baru harus terbuka luas untuk semua anak bangsa dari Sabang hingga Merauke. Siapa pun harus diberi peluang untuk mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Tanpa pandang bulu. Namun, karena masing-masing PTN memiliki kapasitas kursi yang berbeda dan terbatas, maka PTN melakukan seleksi sebagai jalan keluarnya.
Salah satu fungsi diterapkannya sistem seleksi adalah keinginan perguruan tinggi untuk mendapatkan input mahasiswa baru yang memiliki kemampuan akademik tinggi atau minimal di atas rata-rata (the best input). Akibat dari sistem seleksi inilah, jamak kita saksikan siswa-siswi –pasca UN- yang ramai-ramai untuk mengikuti les/bimbingan belajar yang didesain (baca: dikondisikan) secara khusus untuk mengantarkan lulusan SMA/MA/SMK agar lolos dalam tes SNMPTN. Maka, pantaslah jika anak-anak yang diterima di PTN adalah mereka yang memiliki kemampuan akademik tinggi. Lalu, yang belum banyak mendapat perhatian –namun perlu dicari solusinya- adalah bagaimana nasib mereka yang tidak diterima di PTN yang nota bene lemah bidang akademik-intelektualnya, tetapi masih ingin bisa kuliah?
PTN Unggul
Dalam buku “Sekolahnya Manusia”, Munif Chatib (2009:93) menyatakan bahwa indikator sekolah  unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas pembelajaran, bukan pada kualitas input siswanya. Mengacu hal ini, maka PTN unggul adalah kampus yang fokus pada kualitas pembelajaran bukan pada kualitas input mahasiswanya.
Kualitas proses pembelajaran bergantung pada kualitas para dosen yang mengajar di kampus tersebut. Apabila kualitas dosen di suatu PTN baik, mereka akan berperan sebagai “agen of change” para mahasiswanya. Alhasil, PTN dikatakan unggul jika para dosennya mampu menjamin mahasiswanya untuk berubah menjadi yang lebih baik, mengubah mahasiswa yang asalnya berkualitas akademis negatif (baca: rendah) menjadi positif, itulah PTN unggul.
Lebih lanjut, Chatib menyatakan bahwa konsekuensinya bagi PTN yang berani mengklaim kampusnya adalah kampus unggul; maka harus dengan senang hati menerima semua calon mahasiswa baru dengan kondisi apa pun, tanpa pandang bulu, dan tanpa melakukan seleksi akademis. Prinsipnya, kampus harus menganggap tidak ada mahasiswa yang bodoh. Sehingga, setiap penerimaan mahasiswa baru, kampus akan menutup pendaftaran, jika kuota kursi mahasiswa sudah terpenuhi, bukan melalui jalur seleksi. Hemat penulis, penerimaan mahasiswa baru ini harus bersifat terbuka dari sisi akademik, tingkat ekonomi, maupun asal daerahnya.
Mengapa demikian? Pada dasarnya, bagi calon mahasiswa yang gagal dalam seleksi masuk PTN adalah mereka yang memiliki keinginan kuat untuk meneruskan pendidikannya di bangku kuliah. Jika, keinginannya tersebut tidak tercapai, maka pastilah mereka memiliki rasa kekecewaan yang tinggi. Bisa juga, stigma sebagai anak yang gagal masuk PTN unggul akan terus melekat seumur hidup dan selalu terbayang dalam benak pikirannya. Hal ini tentu akan berbahaya bagi masa depan anak.
Namun, menerima mahasiswa tanpa seleksi bukanlah pekerjaan gampang bagi PTN yang sudah biasa menjaring mahasiswa melalui sistem seleksi yang “ketat”. Tetapi, jika kita menyaksikan “nasib” mahasiswa “lemah” secara akademis, sementara mereka masih memiliki tekad yang kuat untuk mengenyam pendidikan, sebagai PTN haruslah tertantang untuk “rela” menyediakan kursi bagi mahasiswa tersebut. Kalau perlu, pemerintah (baca: Kemdiknas) juga segera melakukan pembahasan secara khusus terkait penyediaan kursi bagi mahasiswa yang memiliki keinginan kuat untuk kuliah, sementara prestasi akademiknya tergolong rendah. Dan, PTN harus melakukan pelayanan akademis secara “khusus” kepada mereka dengan menyelenggarakan proses pembelajaran yang berkualitas (the best process).
Mungkinkah hal ini terlaksana? Apabila kita semua peduli terhadap nasib generasi bangsa, maka selain menyediakan kursi bagi mahasiswa miskin secara ekonomi, pemerintah juga seyogianya memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang lemah secara akademis tapi “masih” memiliki tekad kuat untuk maju. Jika hal ini dapat direalisasikan, sungguh masa depan generasi bangsa akan semakin memancarkan sinar kecemerlangan. Semoga.[ahf]

Rabu, 17 November 2010

Kiat Menulis Resensi Buku
  1. Ernest Nugroho, S.Pd
Menulis resensi atau kritik buku sebenarnya nggak sulit. Kalau mau, kamu juga bisa. Nah, berikut ini ada beberapa tips agar kamu piawai menulis resensi.
* Tulisan resensi yang menggambarkan sinopsis harus sesuai dengan isi buku. Banyak peserta yang terdaftar dalam kompetisi ini ternyata kurang memahami isi buku sehingga sinopsis mereka berbeda dengan isi buku.
* Ketajaman analisa. Setelah memahami isi buku, kamu harus bisa menilai apakah isi buku bermanfaat atau tidak ? Jika memang bagus, beri penjelasan di mana letak sisi bagus itu. Begitu pun sebaliknya. Di samping itu, kamu harus pula menguasai pengetahuan lain sebagai bahan pembanding isi buku yang hendak kamu kritisi itu, termasuk di dalamnya menyikapi masalah yang ditampilkan buku tersebut.
Asal kamu tahu, prosentase terbesar kriteria penilaian ada pada ketajaman analisa. Di sini, kamu harus bisa mengaitkan masalah lain yang ada dengan masalah yang diangkat buku itu. Dari sini, gagasan kamu dan isi buku mengenai masalah yang sama, bisa bertemu. Tentu saja kamu bisa mengungkapkan ketidaksetujuan atas gagasan penulis buku yang bersangkutan. Pada saat yang sama, kamu juga harus menawarkan argumen untuk mendukung pendapatmu.
* Gunakan bahasa yang terstruktur, lugas, dan jelas sehingga memudahkan pembaca memahami maksud kamu. Melalui bahasa semacam itu, kamu bisa menulis ulang isi atau materi yang terkandung dalam buku, kemudian mengkritisi isinya jika ada yang dinilai kurang tepat. Selain itu, penulis resensi juga harus memiliki kemampuan memahami isi buku secara benar.
* Terakhir, hindari penggunaan kalimat yang panjang dan bertele-tele. Kalimat panjang bisa mengaburkan pesan yang akan disampaikan. Jangan lupa, pilih kata-kata yang tepat untuk merangkai tulisan resensimu. Dengan cara ini, niscaya pembaca akan gampang memahami maksud kamu. Tidak sulit, kan? Oke deh, selamat mencoba. berbagai sumber/cho




Resensi ialah tulisan yang isinya menimbang atau menilai sebuah karya yang dikarang atau dicipta orang lain. Resensi itu asal katanya dari bahasa Belanda recensie. Dalam bahasa Inggris, padanan katanya adalah istilah review (ini juga berasal dari bahasa Latin: revidere; re “kembali”, videre “melihat”). Karya yang dinilai dalam tulisan resensi meliputi buku, film, teater, lagu, dan semacamnya.
Secara umum, resensi dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Deskriptif : menggambarkan dan menjelaskan tentang karya seseorang secara menyeluruh, baik dari segi isi, penulisannya, maupun penciptanya (creator). Resensi deskriptif ini tidak sampai pada penilaian kritik (bagus/tidak) si penulis terhadap karya yang dia resensi. Dia hanya menjelaskan secara singkat tentang isi, proses, dan pencipta sebuah karya.
2. Deskriptif-evaluatif : resensi dengan karakter kedua ini melakukan penilaian terhadap sebuah karya lebih dalam dari yang pertama. Dia tidak hanya menggambarkan, tapi menilai sebuah karya secara keseluruhan dengan kritis dan argumentatif. Sehingga ada kesimpulan pada akhir resensi, apakah karya yang diresensi baik kualitasnya atau tidak.
3. Deskriptif-komparatif : resensi yang ketiga ini lebih sulit lagi daripada macam resensi yang kedua. Resensi macam ketiga ini mencoba melakukan penilaian pada sebuah karya dengan cara membandingkan karya orang lain yang memiliki kesamaan atau keterkaitan secara isi dan materi. Disebut sulit, sebab selain membutuhkan analisa  mendalam dan kritis, resensi macam ketiga ini membutuhkan pengetahuan dan wawasan luas. Tidak hanya satu karya yang harus dia pahami, namun karya-karya lain yang berhubungan dengan karya yang dia resensi harus pula dia pahami.

Tujuan resensi buku adalah mengomunikasikan penilaian yang sudah ditimbang masak-masak ada pembaca lain, agar mereka memutuskan ingin membaca buku tersebut atau tidak. Penting menyajikan resensi yang mudah dipahami pembaca, mampu memenuhi kebutuhan dan
karakteristik mereka. Dan sebagai saran seorang kawan, pembaca diharapkan akan mempertimbangkan pula masukan tersebut. Ingat, seorang kawan tak akan memaksa; andaipun terkesan memaksa, itu pasti demi kebaikan atau karena rasa sayang. Bila saran itu dirasa datang dari seorang kawan baik, orang yang tak akan mencelakakan, yakinlah saran
itu akan berpengaruh, setidak-tidaknya karena ada seseorang telah bersaksi bahwa sebuah buku itu sungguh-sungguh layak diperhatikan. Asma Nadia menyebutkan lima alasan kenapa kita harus menulis resensi.



Berikut ini kutipan apa yang ia tulis :
1. Sebagai upaya mengikat makna. Dengan menulis kamu mengikat apa yang kamu baca. Dengan mengikatnya maka kamu tidak akan cepat lupa pada hal-hal yang mungkin baik yang ada di buku itu.
2. Menulis resensi juga merupakan latihan yang baik untuk mengapresiasi sebuah tulisan, dengan elemen-elemennya. Resensi tentu saja bukan sekumpulan pujian terhadap satu buku. Resensi boleh saja merupakan deretan kritikan terhadap buku itu. Sah-sah saja. Tapi dengan meresensinya maka kamu akan memikirkan baik buruknya buku yang kamu baca, dengan lebih dalam. Yang pada berikutnya akan memberimu masukan secara pribadi, kekurangan-kekurangan penulis yang tidak boleh dibiarkan ada pada tulisanmu nanti, maupun mencoba mengambil kelebihan-kelebihan si penulis, agar juga menjadi milikmu. Khususnya jika kamu ingin menjadi seorang penulis.
3. Menulis resensi seperti juga buku harian, surat pembaca, atau blogging, merupakan latihan yang sangat baik untuk menulis. Dengan menulis resensi kamu belajar mengungkapkan gagasan dengan lebih baik.
4. Menulis resensi, juga membantumu mengingat buku-buku apa yang telah kamu baca. Daripada sekadar membaca, toh kamu sudah membeli buku itu, kenapa tidak sekalian menulis apa kesanmu, apa yang bisa kamu ambil, apa protesmu tentang buku itu. Ini bisa jadi cara baik untuk mengajak temanmu yang lain membaca. Apalagi kalau diam-diam kamu punya koleksi resensi dari semua buku yang kamu baca.
5. Menulis resensi juga bisa pembelajaran untuk bernalar dalam mentranskripsi teks yang sangat luas ke dalam teks lebih ringkas dengan mengembangkan analisis prioritas terhadap teks yang akan diresensi. Dengan demikian, kecerdasan otak kanan juga lebih terasah.

Untuk resensi buku, berikut beberapa kiat yang bisa membantu kita untuk mempermudah penulisannya.
1. Baca isi buku dengan pemahaman keilmuan yang kita miliki. Seorang yang tidak menguasai teori sastra sama sekali, jelas akan kesulitan menganalisa buku sastra. Apakah peresensi harus seorang ahli/ilmuwan? Tentu tidak. Tapi, minimal menguasai dasar-dasar suatu ilmu pengetahuan yang ada dalam isi buku tersebut.
2. Peresensi yang baik seyogianya membaca isi buku secara lengkap, jika perlu berulang-ulang dan membandingkan dengan beberapa buku serupa. Tapi ini akan merepotkan dan menghabiskan energi. Peresensi yang demikian biasanya untuk penulisan jenis resensi kritik. Untuk jenis resensi informatif atau deskriptif, kita hanya mencari bagian-bagian point of view dari tema buku, termasuk kata pengantar dan epilog. Namun demikian,  hanya bisa diterapkan untuk mengulas buku ilmiah yang mana bab per babnya disusun secara baku dan teratur. Untuk buku jenis novel jelas tidak bisa diterapkan.
3.Pilih tema pokok yang ingin anda jelaskan dalam resensi. Point of view, atau angle tidak boleh lebih dari satu. Hal ini untuk menghindari melebarnya pembahasan dari tema pokok.
4. Kutip beberapa materi dari isi buku sebagai data ulasan.
5. Berikan penjelasan pada lead tulisan secara singkat dan deskriptif isi buku.
6. Materi isi buku dijabarkan pada bagian struktur/badan penulisan.
7. Akhiri penulisan dengan komentar singkat. Peresensi yang baik akan menyanjung dan mengkritik secara objektif dan proporsional. Ingat, posisi peresensi dalam hal ini adalah sama dengan seorang ilmuwan. Tak boleh subjektif dan distortif dalam menyampaikan ulasan.

Pesan Inspirasi untuk Para Guru (Pendidik)
 “Masuklah kedalam dunia mereka
Bawalah mereka keduniamu!”
Pendidikan bukan persiapan untuk hidup
Pendidikan adalah hidup itu sendiri
(John Dewey)
Tujuan pendidikan adalah mempersiapkan generasi muda
Untuk mendidik diri mereka sendiri seumur hidup mereka.
(Robert Maynard Hutchins)
Pendidikan bukanlah sesuatu yang diperoleh seseorang,
Tapi pendidikan adalah sebuah proses seumur hidup
(Gloria Steinem)
Yang hebat didunia ini bukanlah tempat dimana kita berada
Melainkan arah yang kita tuju
(Oliver Wendell Holmes)
Arah yang diberikan pendidikan
Untuk mengawali hidup seseorang akan menentukan masa depannya
(Plato)
Murid yang dipersenjatai dengan informasi
Akan selalu memenangkan pertempuran
(Meladee McCarty)
Seorang Guru
Menggandeng tangan, Membuka pikiran
Menyentuh hati, Membentuk masa depan
Seorang Guru berpengaruh selamanya
Dia tidak pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir
(Henry Adam)
Kebajikan atau pengetahuan saja takkan cukup sebagai modal menjadi Guru
Anugrah mengajar adalah bakat yang khas dan melibatkan kebutuhan
Serta hasrat dalam diri sang Guru sendiri.
(John Jay Chapman)
Salah satu tanda seorang pendidik yang hebat
Adalah kemampuan memimpin murid-murid
Menjelajahi tempat-tempat baru
Yang bahkan belum pernah didatangi sang pendidik
(Thomas Groome)
Mengajar berarti belajar lagi
(Oliver Wendell Holmes)
Guru biasa memberitahukan
Guru baik menjelaskan
Guru ulung memeragakan
Guru hebat mengilhami
(William Arthur Ward)
Aku menyentuh masa depan. Aku mengajar
(Christa McAuliffe)
Kita tidak selalu bisa membangun masa depan bagi generasi muda
Tapi kita bisa membangun generasi muda untuk masa depan.
( Franklin D Roosevelt)
Kita tidak bisa mengajari orang apapun
Kita hanya bisa membantu mereka menemukannya di dalam diri mereka
(Galileo Galilei)
Jika kau memberi tahu mereka
Mereka hanya akan melihat gerakan bibirmu
Jika kau menunjukan kepada mereka
Mereka akan tergoda untuk melakukannya sendiri
(Maria Montessori)
Yang penting bukan bagaimana caramu hidup
Tapi hidup siapa yang kamu ubah dengan hidupmu
Seorang majikan bisa memberitahumu apa yang ia harapkan darimu
Tapi seorang Guru membangkitkan pengharapanmu sendiri
(Patricia Neal)
Seni mengajar dalah seni membantu penemuan
(Mark Van Doren)
Aku bukan seorang Guru tapi seorang pembangkit
(Robert Frost)
Tujuan mengajar adalah untuk membuat anak bisa maju tanpa Gurunya
(Elbert Hubbard)
Jangan pernah meragukan keberhasilan
Sekelompok kecil orang yang bertekad mengubah dunia
Karena hanya kelompok seperti itulah yang pernah berhasil melakukannya
(Margaret Mead)
Setiap orang berbakat di bidang tertentu
Kita hanya harus menemukan apa bakatnya
(Evelyn Blose Holman)
Aku bukan seoarang Guru hanya sesama musafir yang kau tanyai arah
Aku menujuk ke arah depan—kedepan diriku sendiri dan ke depan dirimu
(George Bernard Shaw)
Apa yang ingin dipelajari murid
Sama pentingnya dengan apa yang ingin diajarkan Guru
(Lois E.LeBar)
Bertindaklah seolah apa yang kau lakukan membuat perbedaan
Karena kenyataannya memang begitu
Ajari murid-murid menggunakan bakat apapun yang mereka miliki.
Hutan akan sunyi jika yang berkicau
Hanyalah burung-burung yang paling merdu kicaunya
Kita cemas akan jadi apa anak kita nantinya
Namun kita lupa bahwa ia sudah jadi seseorang sekarang
(Stacia Tusher)
Mengajar bukan profesi. Mengajar adalah kegemaran
Aku telah mencapai sebuah kesimpulan yang menakutkan bahwa aku
adalah unsur penentu di dalam kelas.
Pendekatan pribadikulah yang menciptakan iklimnya
Suasana hatikulah yang membuat cuacanya.
Sebagai seorang Guru, aku memiliki kekuatan yang sangat besar
untuk membuat hidup seseorang menderita atau gembira.
Aku bisa menjadi alat penyiksa atau pemberi ilham,
bisa bercanda atau mempermalukan,
melukai atau menyembuhkan.
Dalam semua situasi, reaksikulah yang menentukan
apakah sebuah krisis akan memuncak atau mereda
dan apakah seseorang akan diperlakukan sebagai manusia atau direndahkan.
( Haim Ginott)
Anak-anak di dalam kelas kita mutlak lebih penting
daripada pelajaran yang kita ajarkan kepada mereka
(Meladee McCArty)
Aku seorang Guru
Guru adalah seorang pemimpin
Tidak ada keajaiban dalam pekerjaanku
Aku tidak berjalan di atas air
Aku tidak membelah lautan
Aku hanya mencintai anak-anak
(Marva Collins)
Kau bisa membayar orang untuk mengajar
tapi kau tak bisa membayar mereka untuk peduli
(Marva Collins)
Salah satu hal yang bisa dilakukan seorang Guru
adalah mengirim pulang seorang murid di siang hari
dalam keadaan menyukai diri mereka
sedikit lebih daripada ketika ia datang di pagi hari
(Ernest Melby)
Anak-anak adalah sumber alam kita yang paling berharga
(Herbert Hoover)
Setiap murid bisa belajar,
hanya saja tidak pada hari yang sama atau dengan cara yang sama
(George Evans)
Jika kau harus berteriak, lakukanlah untuk membangkitkan semangat seseorang
Rahasia pendidikan adalah menghormati sang murid
(Ralph Waldo Emerson)
Mengajari anak-anak berhitung memang bagus, tapi yang terbaik adalah mengajari mereka apa yang perlu diperhitungkan
(Bob Talbert)

 
Michael W. Smith Lyric "Friends"
Friends (By Michael W. Smith)
Packing up the dreams God planted
In the fertile(sp?) soil of you
I can't believe the hopes He's granted
Mean the chapter in you life is through

BRIDGE :
But we'll keep you close as always
It won't even seen you've gone
'Cause our hearts in big and small ways
Will keep the love that keeps us strong

CHORUS:
And friends are friends forever
If the Lord's the Lord of them
And a friend will not say never
'Cause the welcome will not end
Though it's hard to let you go
In the Father's hands we know
That a lifetime's not too long
To live as friends

And with the faith and love God's given
Springing from the hope we know
We will pray the joy you'll live in
Is the strength that now you show

BRIDGE
CHORUS(2x)

Though it's hard to let you go
In the Father's hands we know
That a lifetime's not too long
To live as friends
sajak-sajak
saut situmorang

karena laut, sungai lupa jalan pulang
di kota kecil itu
gerimis turun dan kita basah oleh senyum dan tatapan tatapan curian yang tiba tiba mekar jadi ciuman ciuman
panjang...
               karena laut, sungai lupa jalan pulang
               dan batu batu hitam
               daun daun gugur
               danau kecil di lembah jauh
               jadi sunyi
               kehilangan suara jangkrik suara burung
gerimis yang turun
mengikuti terus di jalan jalan gunung pasar hiruk pikuk bis antar kota pertunjukan pertunjukan malam yang
membosankan sampai botol botol bir kosong tempat lampu neon berdustaan dengan bau tembakau
               karena laut, sungai lupa jalan pulang
               dan di meja-warung basah oleh gerimis
               sebuah sajak setengah jadi
               mengabur di kertas tissue yang tipis
 


sadar dari mabuk suatu pagi musim hujan
badai timbul
dari kepak kupu kupu menggetarkan kelopak kembang setaman dan embun runtuh jadi gerimis di kota kecil yang
jauh itu
di jalanan sudah tak ada
bekas bulan cuma koran koran bekas, bau malam yang suram dan air lumpur menyerah  pada deru angin dingin
musim yang membawa basah ke hitam tanah
badai timbul dari
kepak kupu kupu yang sendiri di taman basah embun mencari carimu
gerimis telah menghanyutkan
bau tubuhMU dari kota kecil itu

sentimentalia sebuah nama
selalu aku memberangkatkanMU
dengan puisi dan botol botol bir kosong karena habis sudah airmata terguyur gerimis yang membuat sepi jalan jalan
kota
selalu tak pernah ada janji
untuk bertemu lagi daun daun yang gugur di hutan jauh biarlah tetap terkubur dalam mimpi embun
dan selalu aku terkenang pada derak kerikil-batu
kursi yang digeser dan senyum kecil seindah sayap kupu kupu saat wajahMU melintas hanya sekilas lewat nama
yang seseorang kebetulan ucapkan
 
 


persistence of memory
satu tangan raksasa tiba tiba tumbuh panjang
panjang memanjang dari jam yang tergantung
di dinding
tangan raksasa itu terus memanjang menjulur
membentuk mulut ular bertelinga srigala yang
terbang ke arahku menelan semua kenang kenangan
yang telah begitu lama mempersatukan hidup
kita
jam di dinding yang terus menerus berdetik
perlahan lahan mengeluarkan darah
lalu kedua tangan jam itu saling memuntir
tangan pasangannya terus memuntirnya hingga
darah makin banyak berdarah
lalu kepala ular bertelinga srigala tadi
meledak
lalu suara detik detik jam tadi sirna
lalu kedua tangan jam yang saling memuntir
tadi putus putus dan lenyap
lalu darah yang terus berdarah tadi
menguap
lalu jam dinding itu sendiri berkerut jadi ulat
memakani dinding jadi kepompong jatuh ke tanah
jadi mesin tik yang terbang ke bintang bintang
jadi mata yang menangisi kepergianMU...
 
saut situmorang

amsal merah jingga
 
         "berikanlah kepada kaisar
         apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar
         dan kepada Allah
         apa yang wajib kamu berikan kepada Allah"
tapi bagaimana
kalau kaisar itu bukan kaisar
dan menganggap dirinya sama dengan Allah?
orang orang kurus
yang bayangannya juga kurus
menengadahkan tangan mereka
ke langit
dengan desah napas yang tertahan
doa doa melambung ke udara
bagai ribuan balon kosong menghambur ke cakrawala
mengetuk ngetuk pintu langit
menggetarkan awan awan yang kering hujan
"sampai kapankah kami
mesti terus memberi
kering tulang kami
susut perut kami
sementara bumi sudah lama tak akrab lagi?"
di laut
sebuah pedal sepeda
tersangkut di celah karang
bau keringat mengerubunginya
bagai lalat lalat di tumpukan sampah di kota
orang orang kurus
dengan bayangan kurus
masih mengangkat tangan mereka
wajah wajah suram tergores kering airmata
         "berikanlah kepada kaisar…"
ya, burung tak bernama
yang mengerti bahasa cakrawala
terdengarkah detak jantung kami yang lemah
dari atas sana? adakah…?
padi tumbuh tapi layu jadi debu
keringat mengalir kering jadi debu
angin musim cuma membawa hujan debu
dalam tidur pun mimpi kami
tak bisa lari dari debu, debu, debu…
tapi di kota kota
yang cuma penuh  serdadu serdadu tak berwajah
suara asing itu tak henti henti menyiksa
         "berikanlah kepada kaisar…"
orang orang kurus
bernasib kurus, sekarang tak sabar lagi
dengan langit
bagai kerbau luka napas mereka mendengus ---
kota kota membara
terbakar hangus
di mata mereka yang merah marah


seandainya kita di Dili
"jangan tembak, pak!
jangan tembak!
saya ini orang Indonesia!
lihat! KTP saya KTP Jakarta!!!"
"wah, tenan, lho. sialan.
ya, sudah. hayo sembunyi
sana di Koramil. kok wong Indonesia ada di jalanan.
pengen mati, ya! diancuk!"
15 september 1999


requiem
langit hitam
bumi hitam
tanah hitam
asap hitam
puing puing membara
puing puing membara
mobil membara
asap hitam
jalanan kosong
asap hitam
potongan kaki
potongan kaki
potongan tangan
sepatu
sandal
potongan kepala
asap hitam
asap hitam
puing puing membara
langit sunyi
bumi sunyi
asap hitam
jalanan kosong
sunyi
langit
bumi
diam
sunyi
timor timur
mati
15 september 1999

kita sudah terlalu lama menderita
(get up stand up, stand up for your right
get up stand up, life is your right
Bob Marley)
baru tadi aku lihat lagi kekejaman mereka. kota hangus tinggal arang arang
hitam raksasa tercekik
asap beracun berbau mayat berbau mesiu.
orang orang yang ketakutan
bergerombol
bagai hewan hewan korban yang akan dipotong
dan mata mereka memelas minta tolong.
siapa yang akan menolong?
tentara tentara itu ketawa waktu tahu
kamera akan mengabadikan wajah mereka. dan
wajah mereka begitu akrab begitu biasa
karena sudah terlalu lama kita mengenalnya.
hei, saudara! begitulah kalian orang Indonesia
rupanya, ya! membunuh sambil ketawa,
malah sengaja untuk kamera!!!
kota hangus dalam kabut asap memberangus
dan suara ribuan kaki telanjang
terhapus oleh senyum seorang jendral besar.
"Timor Timur aman." "Timor Timur baik-baik saja."
"Kan ada jam malam!"
kita sudah terlalu lama menderita
oleh senyum dan bau mesiu senjata.
kota arang arang hitam raksasa
asap beracun berbau mayat mesiu
orang orang yang ketakutan itu
adalah kita yang sedang digiring ke pisau penjagal gila.
bangunlah, wahai orang orang celaka!
bangunlah Indonesia celaka!
anjing anjing setan mengepung di mana mana
darah dagingmu yang mereka minta!
bau mayat bau mesiu
merusak wajah wajah kita begitu lama
bagai orang sakit tak tersentuh matahari
Indonesia perlahan mulai jadi zombie
dan anjing anjing setan melolong panjang
mengejek langit yang kelam tak berbulan bintang.
kita sudah terlalu lama menderita
terbius candu mesiu pembuat takut
tak ada yang bisa menolong
kecuali kita sendiri bangun
dan mengusir anjing anjing setan
keluar dari Indonesia selamanya.
anjing anjing setan takut pada panas matahari
yang terpancar dari mata mata berhati nurani.
15 September 1999

andung andung petualang
 
kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?
matahari panas
angin berhembus panas
bus tua meninggalkan kota
aspal jalanan melarikannya selamanya
kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?
kota berganti kampung
sawah berganti gunung
anak lelaki dekat jendela
lagu petualang jadi hidup di darahnya
kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?
kampung menjelma kota
gunung gunung kembali rumah rumah
begitulah berhari bermalam
makin jauh anak dalam perjalanan tenggelam
kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?
menyebrang laut menyebrang pulau
beribu gunung kota terlampau
di negeri sebrang di negeri baru
anak melangkah masuk hidup perantau
o jakarta metropolis pertama
dongeng yang jadi silau mata
makin sayup kini suara ibu
dalam hiruk pikuk karnaval aspal hitammu
jakarta membuatnya gelisah
jakarta bukan tujuan hidupnya
jogjakarta yang jauh
tak sabar mimpinya menunggu
tak ada yang lebih romantis
dari sosok stasiun kereta tua yang manis
lengking kereta dan derit roda besinya
membuat sang anak tak ngantuk matanya
cirebon, semarang, kroya...
lalu jogja bersama pagi tiba
dingin semen lantai dan sapa tukang becak
tak mungkin terhapus dari kepala sang anak
di atas becak antara koper dan bapak
malioboro menyambutnya ramah dan kompak
jogja tua yang manis
cinta pertama memabukkan liris
medan yang jauh
terkubur bersama suara ibu
gamelan dari radio pinggir jalan
musik upacara ritual perantauan
o tembok benteng kraton yang kokoh
lindungi tidur sang anak perantau
alun alun tamansari
mercusuar di labyrinth gang gang malam hari
o turis turis manis berdada manis
keluar masuk lukisan batik dan parangtritis
sang anak mabuk sempoyongan tercengang
jiwanya bergetar sekalut goro goro wayang
o hidup bebas seorang petualang
siang sekolah malam di pasar kembang
suara ibu cuma wesel surat surat bulanan
sampai kartu natal bawa berita kematian
sang anak terpukul matanya kabur
lonceng gereja jadi koor tanah kubur
cerita kristus pembawa keselamatan
jadi cerita ibu andung andung petualangan
jogja kota manis romantis
di jantungmu seorang lelaki menangis
kematian pertama yang menggores wajah
suara ibu dicarinya kini dalam kelana tak sudah
                              1999
 

bocah pemancing ikan
                                  untuk Vasko Popa
seorang bocah kecil memancing di danau dan mendapat bulan
bulan itu lalu dipecahkannya dan keluarlah matahari
karena terlalu panas matahari itu meleleh di dalam solunya
si bocah kecewa dan menangis
menangisi matahari yang meleleh hingga tak ada hasil untuk
                                                dibawa pulang
menangisi bulan yang sudah pecah berkeping keping hingga tak lagi
                  menyinari jalan yang membawanya pulang
menangisi danau yang hanya punya satu bulan saja dalam perutnya
menangisi dirinya yang bocah yang kecil yang hanya bisa menangis
               di dalam solunya di tengah tengah pekatnya lapar malam


aku ingin
aku ingin mencintaimu dengan membabi buta -
dengan sebotol racun yang diteguk romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi
aku ingin kau mencintaiku dengan membabi buta -
dengan sebilah belati yang ditikamkan juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi
                                                   1999

     solilokui
makna macam apa yang
bisa didapat dari hitam aspal jalan jam 12 siang?
bungkus rokok dan taik anjing
di trotoar bicara soal duit dan nasi
yang mesti dimiliki setiap hari.
di negeri kaya tapi miskin begini
jutaan bungkus rokok dan taik anjing
tercecer di trotoar jalan kota kota
cuma jadi jutaan bungkus rokok dan taik anjing.
sinis, katamu menanggapiku.
tak ada yang mengejek siapapun di sini.
soalnya cuma ---
mungkinkah menulis puisi
dari hitam aspal jalan jam 12 siang?
asap kotor sehitam pantat kuali
tergantung antara langit dan bumi
kentut busuk knalpot knalpot keparat
yang hiruk pikuk di sekitarmu.
siapa yang minta anugrah mewah ini!
debu beracun mengejarmu sepanjang hari
dan malam datang
membawa nyamuk nyamuk bangsat
yang sanggup mengantarmu ke liang lahat!
puisi? Bagaimana kau bisa
menulis puisi tanpa bicara tentang semua ini!
bulan hanya indah
kalau lagi purnama
dan dilihat dari belakang kaca jendela rumah!
di luar mungkin ada maling
yang sembunyi di balik tanaman mawar binimu
menunggu dengan belati setajam lapar seminggu.
atau seekor ular berbisa
melata di rumput dekat jendela
tergoda burung hias mahal dalam sangkar
yang kau gantung di ruang tamu.
maling dan ular lapar pun
pantas kau masukkan dalam puisimu.
pengemis itu jelek
jorok dan bau. teteknya berkurap
berpanu
tapi putingnya memancarkan
air susu
sehat bagi puisimu.
tak perlu kau malu
jadi anak ibu itu.
dan anak anak bawah umur
yang berkeliaran kayak setan
di antara sedan sedan di persimpangan jalan
berteriak teriak menjual majalah dan koran
atau berkerumun di depan restauran
berlomba siapa lebih dulu menyemir sepatumu
demi satu dua lembar rupiah lusuh
menyikut sekeping nurani
yang tercecer antara nasi goreng dan
kentucky fried chicken
di meja di depan mata
di ujung air ludah
30 centimeter dari baju pacarmu
yang terbuka dadanya
anak anak setan itu
adalah dupa dupa wangi
yang kau perlu untuk membuat suci
altar keramat zikir baris baris puisimu.
bangsat, kau menguap sekarang!
aku tidak terlalu akademis bagimu!
aku tidak terlalu stylist
atau postmodernist
buat kantong seleramu yang borjuis!
the fetishism of taste!
di negeri ini aku lahir
karena cinta
tambah birahi menyala nyala.
waktu kecil aku mandi hujan
main becek main layangan nyemplung di paret depan rumah
cari ikan sebesar jari tangan
dan waktu mandi di sungai berair kuning
gatal dan bersampah
kawanku menangkap seonggok taik yang mengapung
dan melemparkannya ke arahku!
aku merunduk
menyelam ke dasar sungai, hehehe…
aku anak negeri ini
aku makan duduk di tikar di lantai
pakai tangan tak kenal sendok garpu
sampai sekarang tak malu aku makan begitu
walau sudah bertahun di negeri steak dan sandwich merantau.
menguaplah kau terus.
kalau perlu improvisasi dengan kentutmu
biar lebih seru.
pernah kau berpikir
kenapa tentara dan alim ulama
begitu berkuasa di negerimu?
Indonesia adalah republik pistol dan kitab suci!
kenapa kau tidak jadi jendral atau kiai saja
ketimbang memilih cuma jadi penyair
yang cari sesen duitpun tak sanggup mikir!
pernah kau bayangkan
jangan jangan binimu pun sudah mulai yakin
jendral dan kiai jauh lebih meyakinkan
nulis puisi daripada kau sendiri!
sialan!
rembulan dan anggur merah
tak mampu lagi memperkuat cinta
apalagi memperindah rumah tangga.
aku penyair negeri ini
menulis pakai bahasa negeri ini
sudah waktunya bicara soal negeri ini.
haiyaaa…
           1999
saut situmorang